BAB I
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
Dalam Freudian psikologi , perkembangan
psikoseksual adalah elemen sentral dari psikoanalisis teori
dorongan seksual ,
bahwa manusia, sejak lahir, memiliki sebuah insting libido (nafsu seksual) yang berkembang
dalam lima tahap. Setiap tahap - yang lisan , para anal , yang phallic , yanglaten , dan genital - ditandai oleh zona sensitif seksual yang merupakan
sumber dari drive libidinal. Sigmund Freud mengusulkan bahwa jika anak
mengalami frustrasi seksual dalam kaitannya dengan setiap perkembangan
psikoseksual panggung , ia akan mengalami kecemasan yang akan bertahan menjadi dewasa sebagai neurosis , gangguan mental fungsional.
Mengingat
timeline diprediksi perilaku masa kanak-kanak, ia mengusulkan “ libido
pembangunan “sebagai model masa kecil yang normal perkembangan seksual , dimana anak
berlangsung melalui lima tahap psikoseksual – (i), oral (ii) anal, (iii)
phallic, (iv) laten, dan (v) genital – di mana kesenangan sumber dalam yang
berbeda zona sensitif seksual .
B. RUMUSAN MASALAH
·
Bagaimana
perkembangan psikoseksual menurut sigmund freud?
C. TUJUAN
·
Agar
mahasiswa dapat mengetahui bagaimana perkembangan psikoseksual menurut sigmund
freud.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Perkembangan
Kepribadian Menurut Sigmund Freu
Sigmun Freud Adalah seorang Austria
keturunan Yahudi dan pendiri aliran psikoanalisis dalam psikologi. Ia lahir
pada tanggal 6 Mei 1856 di Freiberg, dikota Moravia dan meninggal dunia pada
tanggal 23 September 1939 di London. Yang sekarang dikenal sebagai bagian dari
Republik Ceko. Menurut Freud, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkatan
kesadaran”, yakni : Sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan tak-sadar
(unconscious manusia didasari pada hasrat seksualitas pada awalnya (eros) yang
pada awalnya dirasakan oleh manusia semenjak kecil dari ibunya. Pengalaman
seksual dari Ibu, seperti menyusui, selanjutnya mengalami perkembangannya atau
tersublimasi hingga memunculkan berbagai prilaku lain yang disesuaikan dengan
aturan norma masyarakat atau norma Ayah. Alferd Adler, mengungkapkan adanya
insting mati di dalam diri manusia, walaupun Freud pada awalnya menolak
pernyataan Adler tersebut dengan menyangkalnya habis-habisan, namun pada
akhirnya Freud pun mensejajarkan atau tidak menunggalkan insting seksual saja
yang ada di dalam diri manusia, namun disandingkan dengan insting mati
(Thanatos). Freud tertarik dan belajar hipnotis di Perancis, lalu
menggunakannya untuk memban t penderita penyakit mental. Freud kemudian
meninggalkan hipnotis setelah ia berhasil menggunakan metode baru untuk
menyembuhkan penderita tekanan. Psikologis yaitu asosiasi bebas dan analisis
mimpi. Dasar terciptanya metode tersebut adalah dari konsep alam bawah sadar,
asosiasi bebas adalah metode yang digunakan untuk mengungkap masalah-masalah
yang ditekan oleh diri seseorang namun terus mendorong keluar secara tidak
disadari hingga menimbulkan permasalahan.
B. Tahap
Perkembangan Psikoseksual Menurut Sigmund Freud.
Teori perkembangan psikoseksual
Sigmund Freud adalah salah satu teori yang paling terkenal, akan tetapi
juga salah satu teori yang paling kontroversial. Freud percaya kepribadian yang
berkembang melalui serangkaian tahapan masa kanak-kanak di mana mencari
kesenangan-energi dari id menjadi fokus pada area sensitif seksual tertentu.
Energi psikoseksual, atau libido , digambarkan sebagai kekuatan pendorong di
belakang perilaku.
Menurut Sigmund Freud,
kepribadian sebagian besar dibentuk oleh usia lima tahun. Awal perkembangan
berpengaruh besar dalam pembentukan
kepribadian dan terus mempengaruhi perilaku di kemudian hari.
Jika tahap-tahap
psikoseksual selesai dengan sukses, hasilnya adalah kepribadian
yang sehat. Jika masalah tertentu tidak diselesaikan pada tahap yang tepat,
fiksasi dapat terjadi. fiksasi adalah fokus yang gigih pada tahap awal
psikoseksual. Sampai konflik ini diselesaikan, individu akan tetap “terjebak”
dalam tahap ini. Misalnya, seseorang yang terpaku pada tahap oral mungkin
terlalu bergantung pada orang lain dan dapat mencari rangsangan oral melalui
merokok, minum, atau makan.
Freud
adalah teoritisi pertama yang memusatkan perhatiannya kepada perkembangan
kepribadian dan menekankan pentingnya peran masa bayi dan awal-anak dalam
membentuk karakter seseorang. Freud yakin bahwa struktur dasar kepribadian
sudah terbentuk pada usia 5 tahun dan perkembangan kepribadian sesudah usia 5
tahun sebagian besar hanya merupakan elaborasi dari struktur dasar tadi. Anehnya, Freud
jarang sekali meneliti anak secara langsung. Dia mendasari teorinya dari
analisis mengeksplorasi jiwa pasien antara
lain dengan mengembalikan mereka ke pengalaman masa kanak-kanaknya.
Berikut
tahapan dan tugas perkembangan menurut teori psikoseksual Freud :
1. Fase Oral (usia 0 – 1 tahun)
Pada
fase ini mulut merupakan daerah pokok aktivitas dinamik atau daerah kepuasan
seksual yang dipilih oleh insting seksual. Makan/minum menjadi sumber
kenikmatannya. Kenikmatan atau kepuasan diperoleh dari rangsangan terhadap
bibir-rongga mulut-kerongkongan, tingkah laku menggigit dan menguyah (sesudah
gigi tumbuh), serta menelan dan memuntahkan makanan (kalau makanan tidak
memuaskan). Kenikmatan yang diperoleh dari aktivitas menyuap/menelan (oral incorforation) dan menggigit (oral agression) dipandang sebagai prototip
dari bermacam sifat pada masa yang akan datang. Kepuasan yang berlebihan pada
masa oral akan membentuk oral
incorporation personality pada masa dewasa, yakni orang menjadi
senang/fiksasi mengumpulkan pengetahuan atau mengumpulkan harta benda, atau gampang
ditipu (mudah menelan perkataan orang lain). Sebaliknya, ketidakpuasan pada
fase oral, sesudah dewasa orang menjadi tidak pernah puas, tamak (memakan apa
saja) dalam mengumpulkan harta. Oral
agression personality ditandai oleh kesenangan berdebat dan sikap sarkatik,
bersumber dari sikap protes bayi (menggigit) terhadap perlakuan ibunya dalam
menyusui. Mulut sebagai daerah erogen, terbawa sampai dewasa dalam bentuk yang
lebih bervariasi, mulai dari mengunyah permen karet, menggigit pensil, senang
makan, menghisap rokok, menggunjing orang lain, sampai berkata-kata
kotor/sarkastik. Tahap ini secara khusus ditandai oleh berkembangnya
perasaan ketergantungan, mendapat perlindungan dari orang lain, khususnya ibu.
Perasaan tergantung ini pada tingkat tertentu tetap ada dalam diri setiap
orang, muncul kapan saja ketika orang merasa cemas dan tidak aman pada masa
yang akan datang.
Sedangkan
tugas perkembangan utama fase oral ini adalah memperoleh rasa percaya, yakni
percaya kepada orang lain, kepada dunia, dan kepada diri sendiri. Cinta adalah
perlindungan terbaik terhadap ketakutan dan ketidakamanan. Anak-anak yang
dicintai oleh orang lain hanya akan mendapat sedikit kesulitan dalam nenerima
dirinya sendiri. Sedangkan anak yang merasa tidak diinginkan, tidak diterima,
dan tidak dicintai, cenderung mengalami kesulitan yang besar dalam menerima
diri sendiri. Anak-anak yang ditolak akan belajar untuk tidak mempercayai dunia
mereka memandang dunia sebagai tempat yang mengancam. Efek penolakan pada fase
oral adalah kecenderungan di masa kanak-kanak selanjutnya untuk menjadi
penakut, tidak aman, haus akan perhatian, iri, agresif, benci dan kesepian.
2. Fase Anal (usia 1 – 3 tahun)
Pada
fase ini dubur merupakan daerah pokok aktivitas dinamik, kateksis dan anti
kateksis berpusat pada fungsi eliminer (pembuangan kotoran). Mengeluarkan faces
menghilangkan perasaan tekanan yang tidak menyenangkan dari akumulasi sisa
makanan. Sepanjang tahap anal, latihan defakasi (toilet training) memaksa anak untuk belajar
menunda kepuasan bebas dari tegangan anal. Freud yakin toilet training adalah bentuk mulai dari belajar memuaskan id dan
superego sekaligus, kebutuhan id dalam bentuk kenikmatan sesudah defakasi dan
kebutuhan superego dalam bentuk hambatan sosial atau tuntutan sosial untuk
mengontrol kebutuhan defakasi. Semua hambatan bentuk kontrol diri (self control) dan penguasaan diri (self
mastery).
Berasal dari fase anal, dampak toilet training terhadap kepribadian di
masa depan tergantung kepada sikap dan metode orang tua dalam melatih.
Misalnya, jika ibu terlalu keras, anak akan menahan facesnya dan mengalami
sembelit. Ini adalah prototip tingkah laku keras kepala dan kikir (anal
retentiveness personality). Sebaliknya ibu yang membiarkan anak tanpa toilet training, akan membuat anak bebas
melampiaskan tegangannya dengan mengelurkan kotoran di tempat dan waktu yang
tidak tepat, yang di masa mendatang muncul sebagai sifat
ketidakteraturan/jorok, deskruktif, semaunya sendiri, atau kekerasan/kekejaman (anal exspulsiveness personality). Apabila ibu bersifat membimbing
dengan kasih sayang (dan pujian kalau anak defakasi secara teratur), anak
mendapat pengertian bahwa produktif.
Jadi,
tugas-tugas yang harus diselesaikan selama fase ini adalah belajar mandiri,
memiliki kekuatan pribadi dan otonomi, serta belajar bagaimana mengakui dan
menangani perasaan-perasaan yang negatif.
3. Fase Fhalis (usia 3 – 5/6 tahun)
Pada fase ini alat kelamin
merupakan daerah erogen terpenting. Masturbasi menimbulkan
kenikmatan yang besar. Pada saat yang sama terjadi peningkatan gairah seksual
anak kepada orang tuanya yang mengawali berbagai pergantian kateksis obyek yang penting.
Perkembangan terpenting pada masa ini adalah timbulnya Oedipus complex, yang diikuti fenomena castration anxiey (pada laki-laki) dan penis envy (pada perempuan).
Odipus kompleks adalah kateksis
obyek kepada orang tua yang berlawanan jenis serta permusuhan terhadap orang
tua sejenis. Anak laki-laki ingin memiliki ibunya dan menyingkirkan ayahnya, sebaliknya anak perempuan ingin
memilki ayahnya dan menyingkirkan ibunya.
Pada mulanya, anak (laki dan
perempuan) sama-sama mencintai ibunya yang telah
memenuhi kebutuhan mereka dan memandang ayah sebagai saingan dalam merebut
kasih sayang ibu. Pada anak laki-laki, persaingan dengan ayah berakibat anak
cemas kalau-kalau ayah memakai kekuasaannya untuk memenangkan persaingan
merebut ibunya.. Gejala ini disebut cemas dikebiri atau castrationanxiety.
Kecemasan inilah yang kemudian mendorong laki-laki mengidentifikasi iri dengan
ayahnya.
4. Fase Latent (usia 5/6 – 12/13 tahun)
Dari
usia 5 atau 6 tahun sampai remaja, anak mngalami periode perbedaan impuls
seksual, disebut periode laten. Menurut Freud, penurunan minat seksual itu
akibat dari tidak adanya daerah erogen baru yang dimunculkan oleh perkembangan
biologis. Jadi fase laten lebih sebagai fenomena biologis, alih-alih bagian dari perkembangan
psikoseksual. Pada fase laten ini anak mengembangkan kemampuan sublimasi, yakni
mengganti kepuasan libido dengan kepuasan nonseksual, khususnya bidang intelektual,
atletik, keterampilan dan hubungan teman sebaya. Fase laten juga ditandai
dengan percepatan pembentukan super ego, orang tua
bekerjasama dengan anak berusaha merepres impuls seks agar enerji dapat
dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk sublimasi dan pembentukan superego. Anak menjadi lebih mudah mempelajari
sesuatu dibandingkan dengan masa sebelum dan sesudahnya (masa pubertas).
5. Fase Genital (usia 12/13 – dewasa)
Fase
ini dimulai dengan perubahan biokimia dan fisiologi dalam diri remaja. Sistem
endoktrin memproduksi hormon-hormon yang memicu pertumbuhan tanda-tanda seksual
sekunder (suara, rambut, buah dada, dll) dan pertumbuhan tanda seksual primer. Impuls pregenital
bangun kembali dan membawa aktivitas dinamis yang harus diadaptasi, untuk
mencapai perkembangan kepribadian yang stabil. Pada fase falis,
kateksis genital mempunyai sifat narkistik, individu mempunyai
kepuasan dari perangsangan dan manipulasi tubuhnya sendiri, dan orang lain
diinginkan hanya karena memberikan
bentuk-bentuk tambahan dari kenikmatan jasmaniah. Pada fase genital, impuls
seks itu mulai disalurkan ke obyek di luar, seperti; berpartisipasi dalam
kegiatan kelompok, menyiapkan karir, cinta lain jenis, perkawinan dan keluarga.
Terjadi perubahan
dari anak yang narkistik menjadi dewasa yang berorientasi sosial, realistik dan
altruistik.
Fase genital berlanjut sampai
orang tutup usia, dimana puncak perkembangan seksual dicapai ketika orang
dewasa mengalami kemasakan kepribadian. Ini
ditandai dengan kemasakan tanggung jawab
seksual sekaligus tanggung jawab sosial, mengalami kepuasan melalui hubungan
cinta heteroseksual tanpa diikuti dengan perasaan berdosa atau perasaan
bersalah. Pemasakan impuls libido
melalui hubungan seksual memungkinkan kontrol fisiologis terhadap impuls
genital itu; sehingga akan membebaskan begitu banyak enerji psikis yang semula
dipakai untuk mengontrol libido, merepres perasaan berdosa, dan dipakai dalam
konflik antara id-ego-superego dalam menagani libido itu. Enerji itulah yang
kemudian dipakai untuk aktif menangani masalah-masalah kehidupan dewasa;
belajar bekerja, menunda kepuasan, menjadi lebih bertanggung jawab. Penyaluran
kebutuhan insting ke obyek di luar yang altruistik itu telah menjadi cukup
stabil, dalam bentuk kebiasaan-kebiasaan melakukan pemindahan-pemindahan,
sublimasi-sublimasi dan identifikasi-identifikasi.
Berikut beberapa gambaran tingkah
laku dewasa yang masak, ditinjau dari dinamika kepribadian Freud :
1.
Menunda kepuasan :
dilakukan karena obyek pemuas yang belum tersedia, tetapi lebih sebagai upaya
memperoleh tingkat kepuasan yang lebih besar pada masa yang akan datang.
2.
Tanggung jawab :
kontrol tingkah laku dilakukan oleh superego berlangsung efektif, tidak lagi
harus mendapat bantuan kontrol dari lingkungan.
3.
Pemindahan/sulimasi
: mengganti kepuasan seksual menjadi kepuasan dalam bidang seni, budaya dan
keindahan.
4.
Identifikasi
memiliki tujuan-tujuan kelompok, terlibat dalam organisasi sosial, politi dan
kehidupan sosial yang harmonis.
C. Hambatan Perkembangan
Teori
Freud hanya menjelaskan adanya kebutuhan yang paling mendasar dari manusia,
yaitu kebutuhan fisiologis, dan tak mampu memberikan penjelasan untuk empat
kebutuhan manusia yang lain.
Hambatan
yang terjadi pada proses pemenuhan kebutuhan seksual pada setiap tahap disebut fiksasi. Berikut adalah uraian singkat
tentang hambatan pada tahap-tahap perkembangan psikoseksual tersebut.
1.
Tahap Oral
Hambatan
pada tahap ini menyebabkan orang mengembangkan kepribadian oral, yakni menjadi
orang yang tergantung dan lebih senang bertindak pasif dan menerima bantuan
dari orang lain. Ketidakpuasan pada fase oral, sesudah dewasa orang menjadi
tidak pernah puas dan berakibat pada ketamakan.
2.
Tahap Anal
Hambatan
pada tahap ini jika Ibu yang membiarkan anak tanpa toilet training, akan membuat anak bebas melampiaskan tegangannya
dengan mengelurkan kotoran di tempat dan waktu yang tidak tepat, yang di masa mendatang
muncul sebagai sifat ketidakteraturan/jorok, deskruktif, semaunya sendiri, atau
kekerasan/kekejaman (anal exspulsiveness personality).
3.
Tahap Falis
Hambatan
pada tahap ini menyebabkan anak akan mengembangkan kepribadian falis, yakni
anak laki-laki akan berkembang menjadi homoseksual atau heteroseksual yang
tidak benar-benar mencintai pasangannya tetapi hanya menjadikannya sebagai
obyek kepuasan seksual. Sedangkan anak perempuan akan berkembang menjadi wanita
yang genit, penggoda pria, atau menjadi lesbian.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Freud berpendapat, bahwa kepribadian
sebenarnya pada dasarnya telah terbentuk pada akhir tahun kelima, dan
perkembangan selanjutnya sebagian besar hanya merupakan penghalusan struktur
dasar itu. Kesimpulan tersebut diambil atas dasar pengalaman-pengalamannya
dalam melakukan psikoanalisis. Penyelidikan hal ini selalu menjurus kearah masa
kanak-kanak, yaitu masa yang mempunyai peranan yang menentukan dalam hal
timbulnya neurosis pada tahun-tahun yang lebih kemudian. Freud beranggapan
bahwa kanak-kanak adalah ayahnya manusia. Dalam menyelidiki masa kanak-kanak
Freud tidak langsung menyelidiki kanak-kanak, tetapi membuat rekonstruksi atas
dasar ingatan orang dewasa mengenai masa kanak-kanaknya.
Pada teori Freud terdapat lima tahap
perkembangan dimana pada tahap tersebut mempunyai tugas perkembangan
masing-masing dan mempunyai hambatan tersendiri pada tahap tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Nursalim,
muhammad, Drs., M.Si, dkk. 2007. Psikologi
Pendidikan. Unesa University Press: Surabaya.
Suryabrata,
Sumardi, drs.,B.A. 2006. Psikologi
Kepribadian. Raja Grafindo Persada: Jakarta.
http://keperawatansarahsahera.blogspot.com/2013/06/psikoseksual-psikososial-psikomoral.html
http://fatkhur-xplayon.blogspot.com/2012/03/mengkaji-masalah-homoseksual-melalui.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar